Soga Mo(ve)ment, pergerakan seorang Nita Azhar

0
881
Soga Mo(ve)ment by Nita Azhar (Foto: Budi/JogjaLive.com)

Nita Azhar bukan desainer muka baru di Yogyakarta. Dengan ciri khas batik berpola eksklusif-elegan dalam balutan brand Soga, karya-karya Nita Azhar sangat dikenal dan diterima oleh pecinta busana ekslusif. Pagelaran Soga Mo(ve)ment seakan menjadi penanda pergerakan paradigmanya di kancah mode Yogyakarta, bahkan Indonesia.

Kecintaan pada batik membuat desainer penulis buku “Behind The Scene by Nita Azhar” merasa sayang setiap kali harus memotong sebuah kain batik utuh. Sehingga, secara khusus dirancangnya kain batik supaya dipotong dengan pola tertentu. Dengan demikian, sebuah thema rancangan, tak harus mengorbankan sebuah kain batik yang merupakan karya seni dengan nilai tinggi.

Pagelaran busana bertajuk SOGA MO(VE)MENT ini seakan menjadi puncak dari pergerakan paradigma rancangan desainer yang telah lebih dari 15 tahun malang melintang ini, baik dari sisi rancangan dasar motif batik, hingga karakter busana yang bergeser menjadi “ready to wear” serta arah produksi massal. Nita ingin menjangkau lebih banyak kalangan dalam karyanya.

Salah satu yang unik dalam pagelaran yang diselenggarakan di The Phoenix Hotel Yogyakarta ini adalah, untuk pertama kalinya Nita Azhar menampilkan baik dengan motif tekstil. Terobosan ini didasari oleh keprihatinan betapa semenjak batik dinyatakan sebagai warisan dunia oleh Unesco, justru terjadi serbuan kain-kain tekstil bermotif batik yang merupakan produk manca negara.

Nita Azhar melakukan upaya kreatif pembalikan paradigma, kain batik dengan motif tekstil. Jadi motif-motif yang selama ini lazim dikenal dalam rancangan tekstil, diaplikasikan dengan teknik batik cap dan dirancang sebagai busana ready to wear, sehingga bisa menjangkau masyarakat luas yang beragam daya belinya.

Sebuah langkah berani yang didasari kecintaan seorang Nita Azhar pada batik. Kita lihat, apakah masyarakat akan meresponnya.