Makin Ramai, Area Parkir Malioboro Diperluas

0
720

Kebijakan UPT Sikapi Lebaran

RADARJOGJA – 26 Agustus 2011

GONDOMANAN – Kawasan sepanjang Jalan Malioboro yang dikenal sebagai tempat belanja di Jogjakarta, semakin padat belakngan ini.  Kepadatan didominasi oleh wisatawan lokal, yaitu warga Jogjakarta dan sekitarnya yang ingin berbelanja aneka keperluan Lebaran.

Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Malioboro Syarif Teguh Prabowo mengatakan, kepadatan di Malioboro belakangan ini terpusat pada sore hingga malam. “Kebanyakan dari mereka, mendatangi mal-mal atau pusat perbelanjaan untuk berbelanja keperluan Lebaran. Indikasi itu juga bisa terlihat dari padatnya tempat parkir di area Malioboro dan sekitarnya,” katanya.

Permasalahan klasik di kawasan Malioboro pun muncul, yakni masalah parkir. Baik itu menyangkut lahan parkir, maupun tarif yang diberlakukan.  Banyak juru parkir (jukir) yang menjelang Lebaran ini menaikan tarif yang biasanya Rp 1000 menjadi Rp 2000 untuk sepeada motor.

Tapi menurut Syarif, hal itu lebih banyak dilakukan oleh juru parkir (jukir) ilegal. Sedangkan jukir yang tergabung dalam paguyuban dan merupakan mitra UPT Maliobaro, diyakininya tidak ada. Dan jika ditemukan jukir resmi yang menaikkan tarif, Syarif berjanji menindaknya.

”Saya minta masyarakat lebih berani bertanya, termasuk soal parkir. Tarif resmi untuk motor Rp 1000, ya bayar segitu saja. Jika ada yang menaikkan, silakan lapor, nanti kami tindak,” tegas Syarif yang ditemui kemarin (25/8) di kantornya.
Parkir illegal diantaranya terjadi di depan Benteng Vredenburg atau kawasan sekitar Malioboro lainnya. Namun menurut Syarif, ternyata ini sudah bukan lagi urusan UPT Malioboro, tapi Dephub.

“Ketersediaan tempat parkir yang terbatas, menyebabkan munculnya parkir-parkir illegal. Masyarakat sekitar biasanya akan membuka sendiri, dengan ketentuan tarif sendiri. Sedangkan untuk jukir yang tergabung dalam paguyuban sudah diberi pembinaan dan sosialisasi terus menerus,” tambah Syarif.

Sementara itu, untuk mengantisipasi keterbatasan lahan parkir, UPT Malioboro bersama Polresta Kota Jogjakarta sudah melarang bus pariwisata masuk area Malioboro sejak H-7. selanjutnya, Taman Parkir Abu Bakar Ali akan digunakan sebagai tempat parkir roda empat. Kemudian taman parkir di Senopati, Alun-alun Utara dan Ngabean. ”Sehingga tidak perlu memaksakan membawa kendaraan pribadi masuk Malioboro,” tambah Syarif.

Selain masalah parkir, masalah lain yang sering dikeluhkan adalah pedagang lesehan. Banyak kasus wisatawan yang merasa harga makanan dilesehan Malioboro terlalu mahal, karena tidak mengetahui sebelumnya. Untuk mengantisipasinya, UPT Malioboro mengharuskan penjual lesehan untuk mencantumkan harga. ”Jika harga naik karena naiknya komoditas ya disesuaikan, tapi yang pasti jangan merugikan wisatawan,” terang Syarif.

Sosialisasi terhadap pedagang lesehan ini diharapkan bisa meminimalkan kecurangan pedagang. Yang banyak dikeluhkan wisatawan, sehingga menimbulkan kesan buruk terhadap pedagang lesehan Malioboro. Sosialisasi juga untuk pedagang baso ataupun PKL dengan penataan tenda.

Sementara itu, agar terlihat lebih bersih, hari Jumat ini akan dilakukan launching gerobak 3  in 1 untuk PKL, yaitu gerobak yang dapat digunakan sekaligus untuk berjualan, menyimpan dagangan sekaligus melindungi dari matahari.

Selain itu, UPT Malioboro juga mengantisipasi jumlah becak dan andong yang masuk Malioboro. ”Biasanya saat Lebaran banyak becak dan andong yang pada hari biasa di luar Malioboro masuk ke Malioboro ini juga dikhawatirkan akan menambah kemacetan,” katanya.

UPT juga tidak punya wewenang membatasi becak di Malioboro, termasuk standarisasi tarif becak. Sesusi dengan momentum libur Lebaran, tarif becak maupun andong juga akan dinaikkan. (c10)