WUJUDKAN ‘CITY IS A SOLUTION’

0
928

Kembalikan Kota Yogyakarta Nyaman

KR – 26 Agustus 2011

YOGYA (KR) – Siapapun walikotanya nanti kota dengan kehidupan yang nyaman wajib dikembalikan, suasana kampung dihidupkan kembali karena Kota Yogyakarta kampung yang bisa dijadikan ikon city is a solution, bukan never ending problems. Kota Yogyakarta yang selama ini menjadi kota paling nyaman di Indonesia harus dipertahankan.

“Ikon kota yang nyaman ini tidak terlepas dari tiga pilar pendukung, yaitu Yogya sebagai kota kebudayaan, pendidikan dan pariwisata. Eman-eman, kalau sebagai kota budaya, pendidikan, pariwisata diabaikan,” kata Prof Wiendu Nuryati dalam diskusi akademis ‘Masa Depan Kota Yogyakarta’, Kamis (25/8) petang di Bangunan Kayu Jurusan Teknik Arsitektur FT-UGM.

Diskusi yang diselenggarakan Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM tersebut mengundang para calon Walikota Kota Yogyakarta, yang dihadiri dua calon Zuhrif Hudaya dan wakilnya Aulia Reza, serta Hanafi Rais dipandu Ketua Jurusan Prof Bakti Setiawan PhD. Menghadirkan nara sumber lainnya, Dr Laretna T Adishakti dan Dr Muhammad Roy Chamsyah.

Dalam diskusi itu juga muncul banyak keluhan, Yogya ternyata tidak berbudaya, karena menyeberang dan parkir di tempat sembarangan. “Pengendara tak peduli ketika pejalan kaki menyeberang di tempat penyeberangan,” kata Prof Wiendu Nuryati dalam diskusi yang diawali dengan penampilan gitar Adishakti dengan lagu ‘Yogyakarta’ KLA Project.

Masalah pariwisata, kalau lokomotifnya Bali, maka gerbong kedua Yogyakarta ini juga harus diperhitungkan, karena sektor ini memberikan income yang kecil bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sementara Laretna T Adishakti banyak mengeluhkan  bangunan heritage sebagai aset budaya yang hilang dan ini terjadi setiap hari, padahal Yogyakarta sudah masuk sebagai kota pusaka dunia yang berpusat di Kyoto, Jepang.

“Karena itu kepada walikota baru nanti bisa menjaga warisan budaya yang setiap saat terkikis, karena Yogya itu the last javanese cities, yang punya kerajaan bersama Solo yang diakui secara nasional dan internasional. Tetapi mengapa warisan itu tiba-tiba hilang dan muncul proyek yang tidak jelas, jelas-jelas akan merusak warisan budaya,” kata Laretna.
Dalam menanggapi pembicara pakar arsitektur tersebut Zuhrif mengatakan visinya sebagai calon walikota mengarah ke pembangunan kampung cerdas, budaya, industri rumah tangga dan kampung hijau. Kampung cerdas, membudaya membaca dengan mengganti jam belajar menjadi jam membaca dengan jangkauan seluruh keluarga.

Sementara calon walikota yang lain, Hanafi Rais berusaha mengembangkan Yogyakarta sebagai kota kreatif. Branding Kota Yogya sendiri perlu digarap oleh tim kreatif dan ini tantangan internal, perlu ketegasan pemerintah selanjutnya untuk fokus ke daerah yang menciptakan pertumbuhan ke selatan. Kotagede, Umbulharjo, Mergangsan, perlu disuntik anggaran untuk menghasilkan potensi baru ditopang dengan kota kreatif.      (Asp)-f