TRIBUN: Sultan HB X Setuju Bandara di Temon

0
793
Kesibukan bandara Jogja (Foto: Budi/JogjaLive.com)

Senin 15 Agustus 2011

Studi Kelayakan Segera Dimulai; Tak Ambil Areal Tambang Pasir Besi;

YOGYA, TRIBUN – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, menyetujui pilihan lokasi Bandara Internasional Kulonprogo di daerah Palihan, Kecamatan Temon. Posisinya adalah di sebelah barat Kali Serang di antara Pantai Congot dan Pantai Glagah.

Tim konsultan dari PT Angkasa Pura I dan Kementrian Departemen Perhubungan akan segera melakukan studi kelayakan (feasibility study), guna mendapatkan kajian lebih lengkap dan pasti menuju realisasi proyek infrastruktur strategis ini.

Areal bandara nanti juga tidak akan tumpang tindih dengan lahan pertambangan pasir besi PT Jogja Magasa Iron (JMI). Keterangan ini diungkapkan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bappeda DIY, Gatot Saptohadi, akhir pekan lalu. “Saat pertemuan bersama tim konsultan, Kemenhub, Ditjen Hubud, Bupati Kulonprogo, dan PT Angkasa Pura I di Kepatihan, Kamis (11/8), Sultan menyangka kalau dari hasil feasibility study arean bandara sama dengan proyek eksplorasi biji besi,” kata Gatot Saptohadi kepada Tribun Jogja, Jumat (12/8) pagi.

Kepastian itu juga disampaikan Sekda Kulonprogo, Budi Wibowo. “Di sebelah timur Kali Serang, untuk proyek eksplorasi biji besi. Kemudian, Serang digunakan pelabuhan ikan. Bayangan Sultan, lokasi bandara ada di sebelah timur JMI, atau tumpang tindih dengan proyek PT JMI,” lanjut Gatot.

Pemerintah Provinsi DIY dan PT Angkasa Pura I (Persero) telah meneken Memorandum of Understanding (MoU) rencana pembangunan bandara pengganti Bandara Internasional Adisutjipto di Sleman. Lahannya akan menggunakan tanah Puro Pakualaman.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Perseo), Tommy Soetomo, beberapa waktu lalu mengatakan kondisi Bandara Adisutjipto dalam kurun 5-10 tahun ke depan akan mengalami pertumbuhan rata-rata penumpang sampai 10 persen per tahun. Hal ini menimbulkan kekurangan kapasitas dan fasilitas bandara antara lain terminal, runway, taxiway, apron dan parkir kendaraan. Pada 2010, penumpang domestik mencapai 3.488.500 orang dan penumpang internasional 206.500 orang.

Sedangkan luas terminal domestik dan internasional yang ada saat ini hanya cukup untuk 1.050.000 penumpang per tahun. PT AP I akan menggandeng GVK, perusahaan India yang mengelola Bandara Internasional Mumbai dan Bangalore.

Kepala Bappeda DIY, Tavip Agus Rayanto, mengemukakan, Palihan memang titik paling memenuhi syarat dari beberapa alternatif lokasi di Kulonprogo. “Berdasarkan aspek sosial, lokasi tersebut paling memenuhi syarat. Apalagi, di situ juga masih terdapat sedikit perumahan. Jika Gubernur sudah menyatakan persetujuan secara resmi, kami juga akan fokus mengenai keberadaan saluran air yang nanti akan digunakan,” urai Tavip.

Mengenai posi masing-masing pihak, Tavip menyebutkan akan ada batasan hak dan kewajiban antara sejumlah pihak, di antaranya Pemprov DIY dan PT Angkasar Pura I (Persero). Pemprov DIY akan penuh mendukung proses studi kelayakan dan perizinan. “Pemerintah DIY juga concern soal lahan sebagai aset, sementara PT Angkasa Pura I (Persero) berhak atas pengelolaan dan bangunan,” kata Tavip. Ia menambahkan, terkait infrastruktur pendukung, jalan, rel kereta api, listrik, air bersih, jadi tanggung jawab Pemprov DIY.

Bandara baru ini akan dirancang menjadi bandara internasional tipe A, yang mampu menampung sekitar 10 juta penumpang per tahunnya. Landasan pacunya ada dua, masing-masing sepanjang 2.500 meter. Bandara baru ini diharapkan beroperasi penuh pada 2017.

Hal penting lain yang juga masuk wacana adalah radar TNI AU, yang saat ini sudah berada di lokasi, untuk digunakan bersama saat bandara beroperasi. Sebab, alat tersebut juga digunakan untuk radar pesawat komersial. “Dengan kepastian lokasi rencana pembangunan bandara tersebut, maka kini PT Angkasa Pura I (Persero) untuk selanjutnya melakukan studi kelayakan terkait finansial dan segala macamnya,” ucap Tavip.

Tiga lokasi

Sebelum ada titik terang dan kepastian Palihan sebagai areal bandara baru untuk mendukung moda transportasi udara di DIY serta wilayah selatan Jateng dan Jatim, ada tiga alternatif lokasi yang ditawarkan Pemkab Kulonprogo. Pertama, areal yang berada di barat Kali Serang di Kecamatan Temon.Kedua, lahan di sebelah timur pelabuhan Tanjung Adikarto di Kecamatan Panjatan. Ketiga, di barat Kali Progo di Kecamatan Galur.

Sekda Kulonprogo, Budi Wibowo, mengatakan, ketiga lokasi yang telah disiapkan ini memiliki kelemahan dan keunggulan sendiri-sendiri sehingga untuk menentukan lokasi pastinya harus melalui studi kelayakan. Menurut Sekda, di manapun lokasi yang akan dipilih untuk pembangunan bandara, Pemkab siap mendukung dan menfasilitasi pembangunannya. Lokasi yang disediakan ini sebagian merupakan lahan milik penduduk dan juga lahan milik Puro Pakualaman.

Untuk mendukung pembangunan bandara ini, lanjutnya, Pemkab juga sudah menyiapkan dua sumber air. Sumber itu, di antaranya, Waduk Sermo dan Kali Progo. Kedua sumber ini dinilai memiliki debit air memadai untuk menyuplai kebutuhan air yang akan digunakan untuk bandara. (igy/has)