Tribun Jogja: Tim Khusus Kasus Rezza Dikoordinir FPK2PA

0
722

Tribun Jogja – Tim khusus dari Pemda DIY untuk pengungkapan kasus kekerasan terhadap Rezza Eka Wardhana akhirnya dibentuk. Sesuai dengan arahan Gubernur DIY, tim tersebut diserahkan kepada Forum Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (FPK2PA) DIY.

“Arahan dari Pak Gubernur yang disampaikan Sekretaris Daerah DIY, telah kami terima Jumat (9/11/2012).  Penyerahan kasus Rezza kepada FPK2PA dimaksudkan untuk menjaga netralitas. Sehingga betul-betul independen sesuai dengan keinginan masyarakat,” terang Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY, dr Rochana Dwi Astuti, Minggu (11/11/2012).

Lebih lanjut dijelaskannya, berdasarkan arahan tersebut, BPPM selaku sekretariat FPK2PA langsung melakukan koordinasi dengan pihak terkait seperti Biro Hukum Pemda DIY, Dinas Sosial DIY, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIY dan SOS Desa Taruna Yogyakarta. Dengan hasil menyepakati dibentuknya tim pencari fakta kasus Rezza dan langkah strategis yang akan dilakukan.

“Hasil temuan dari tim ini akan dilaporkan kepada Ketua FPK2PA (GKR Hemas) dan Gubernur DIY. Keberadaan FPK2PA saat ini telah dikuatkan dengan Perda nomor 3 tahun 2012 tentang perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan,” kata Rochana.

FPK2PA DIY merupakan forum koordinasi penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditetapkan sejak 2004 melalui Keputusan Gubernur nomor 199/Kep/204. Dengan tujuan memberikan pelayanan penanganan dan perlindungan korban kekerasan perempuan dan anak. Sedangkan anggotanya terdiri dari unsur pemerintah daerah, penegak hukum dan lembaga masyarakat yang peduli terhadap kasus kekerasan.

Menurut Ketua LPA DIY, DR Sari Murti Widyastuti, langkah pertama yang akan diambil dalam pengungkapan kasus Rezza adalah melakukan pendampingan terhadap saksi-saksi yang masih dibawah umur. Agar terhindarkan dari potensi intimidasi dari pihak tertentu, sehingga keterangan yang disampaikan akan sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

“Menurut informasi, pada minggu ini akan dilakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara. Kami dari forum akan ditugasi untuk mengawal rekonstruksi tersebut. Disamping itu kami juga memastikan saksi yang masih anak-anak tidak dalam tekanan saat dimintai keterangan,” papar wanita yang menjabat Dekan Fakultas Hukum UAJY ini.

Selain itu, pihaknya juga akan berupaya mencari fakta-fakta lain pendukung pengungkapan kasus kekerasan yang mengakibatkan Rezza meninggal dunia. Agar dapat dijadikan bahan pertimbangan, karena tidak bisa mengatakan siapa pihak yang bersalah hanya dengan dugaan.

“Tapi semua harus berdasarkan fakta yang ada. Bisa saksi, kronologis kejadian dan lainnya. Tapi yang terpenting adalah memastikan saksi memberikan keterangan dalam keadaan bebas (tidak dalam tekanan),” ujar Sari.

Diharapkan mulai Senin (12/11/2012), sudah ada konfirmasi dari GKR Hemas siapa yang akan ditunjuk sebagai ketua pelaksana tim khusus pengungkap kasus Rezza. “Kemungkinannya saya yang akan ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Tapi saya masih menunggu kabar sampai hari ini (kemarin),” tutup Sari. (*)