Swargaloka pentaskan “Sumpah Abimanyu”

0
502

Swargaloka Art and Culture Foundation TMII bekerja sama dengan Himpunan Seni Budaya Indonesia (HISBI) menampilkan Drama Wayang Orang bertajuk “Sumpah Abimanyu”, Sabtu (22/12) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.

Drama wayang orang yang diformat dalam bentuk pentas opera ini menjadi unik karena dialog tokoh pewayangan disampaikan dalam Bahasa Indonesia. “Belum banyak yang memadukan drama opera dengan wayang orang, karena itulah kami memulainya,” kata Suryandoro, Ketua Swargaloka Art and Culture Foundation TMII, sesudah pementasan.

“Pelestarian dan pemberdayaan seni budaya bangsa kita ini perlu dilakukan supaya tak terhapus oleh gejala globalisasi terutama dengan mengemukanya bentuk-bentuk kesenian kontemporer sekarang ini,” demikian Erman Suparno, mantan Menakertrans Kabinet periode 2005-2009, yang aktif dalam kegiatan pelestarian kebudayaan melalui Himpunan Seni Budaya Indonesia (HISBI).

Sebelum pentas, HISBI secara khusus memberikan penghargaan kepada pelaku seni dan budaya di Yogyakarta yakni, Sumarji (seniman Ketoprak), Pujo Wiyono (seniman Karawitan), Ki Cermo (Seniman Pedalangan), serta Pak Cipto (Pelaku Tari). “Mereka yang berkarya dalam ranah kebudayaan, perlu kita beri penghargaan. HISBI memberi apresiasi sebentuk penghargaan sederhana yang tadi disampaikan,” tambah Erman kepada media.

“Pementasan ini kiranya mempunyai nilai yang sangat penting dan strategis bagi Yogyakarta, karena akan memperkenalkan dan menanamkan kecintaan generasi muda terhadap salah satu khasanah budaya Indonesia, serta memberikan ruang kepada seniman untuk berkreasi. Tidak sekedar menghadirkan tontonan, namun juga tuntunan.” Demikian Gubernur DIY memberikan sambutan tertulisnya.

Opera wayang orang “Sumpah Abimanyu” bersumber dari Epos Mahabharata yang mengisahkan perjalanan Abimanyu sebagai ksatria putra Pandawa, yang akhirnya gugur untuk menyelamatkan barisan Pandawa yang terdesak dalam peperangan Bharatayuda. Diiringi oleh musik DraYang yang disusun oleh Dedek Wahyudi, disutradarai oleh Irwan Riyadi dengan penata tari Tian Heri Pitoyo dan Dewi Sulastri.

“Menarik sekali menyaksikan betapa generasi muda sedemikan bersemangat dalam upaya pelestarian seni budaya semacam ini, saya tadi mengenali beberapa mantan murid tampil dalam pentas. Penggunaan Bahasa Indonesia memang dilematis, karena seperti menghilangkan nuansa atau roh dari kesenian wayang orang, tapi sekaligus langkah yang berani untuk menyuguhkan wayang kepada semakin banyak kalangan. Wayang orang bukan hanya milik orang Jawa lagi sekarang,” demikian komentar Daruni, staf pengajar Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.

Sederet seniman senior tampak tampil antara lain Yati Pesek, Marwoto, serta biduan Endah Laras. Animo masyarakat Yogyakarta terlihat dari penuhnya kursi di Concert Hall Taman Budaya, meskipun di kawasan Yogyakarta cuaca kurang bersahabat dengan turunnya hujan gerimis.