Rekonstruksi Beksa Bedaya Gandrung Manis

0
724

Sebagai langkah dan upaya penyelamatan seni tari klasik, Taman Budaya Yogyakarta mementaskan dua tari klasik pada Sabtu malam (18/05/13) yang lalu bertempat di Pendopo Dalem Kaneman. Dua tari klasik ini berasal dari era Sultan HB VIII, yakni Bedaya Gandrung Manis dan Gatotkaca-Sutejo.

“Kedua tarian tersebut jarang sekali dihadirkan kepada publik. Kali ini TBY mencoba merekonstruksi kembali agar ada dokumentasi baik secara lisan maupun audio visual. Harapannya bisa menjadi bahan kajian generasi mendatang,” demikian Sri Eka Kusumaning Ayu ketua pelaksana pementasan.

Bedaya Gandrung Manis ditarikan oleh 9 putri. Judul tarian ini diambil dari naskah asli tarian Kraton pada era Sultan HB VIII, dinamai sesuai gending pengiringnya. Bedaya berdurasi 90 menit ini berlatar khasanah cerita Panji, bersumber pada Babad Sigaluh. Digambarkan Raden Banjaransari menaklukkan Kerajaan Galuh.

Rekonstruksi dilakukan dengan menelusuri naskah tarian kuno di Kraton Yogyakarta. Terdapat tiga naskah sumber Bedaya Gandrung Manis. Yakni naskah  Sindenan, naskah Kondo, serta catatan kaki, semuanya dalam aksara Jawa.

“Bedaya Gandrung Manis didominasi oleh gerakan Gundhawa Asta Minggah, antara lain gerakan Ngoyog Kiwo, Ngleyek Kiwo, dimana tangan keduanya lurus turun nglawe dan noleh tengen. Juga disertai Gedrug tengen, tangan nekuk lengkung untuk Ukel dan Noleh Kiwo,” demikian Retnaningsih petugas yang merampungkan pembacaan naskah selama satu bulan di Kraton Yogyakarta.

Sedangkan Tarian Gatotkaca-Sutejo menampilkan pertempuran kedua ksatrya saat memperebutkan Kikis Tunggorono, salah satu fragmen dalam kisah pewayangan Mahabharata.