Peringati Hari HAM sedunia, sekelompok seniman selenggarakan “The Art of Nguwongke”

0
424

Dalam rangka memperingati Hari Hak Azazi Manusia sedunia yang jatuh pada setiap 10 Desember, sekelompok seniman perupa menggagas pameran senirupa bertajuk “The Art of Nguwongke #1”. Dalam pameran yang bakal diikuti oleh 21 perupa sebagian besar dari Yogyakarta ini, akan ditampilkan kurang lebih 45 karya meliputi lukisan, patung, seni insalasi, serta foto artistik.

Pameran direncanakan akan dibuka pada Jumat (15/12) pada pk. 19.00 wib di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta (TBY) jl Sriwedari. Diselenggarakan hingga 22 Desember, terbuka untuk umum sejak pk 10.00 – 21.00 wib.

“The Art of Nguwongke berangkat dari kegelisahan terhadap pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan yang saat ini masih cukup mengkhawatirkan,” demikian seniman Adjie Koesoemo menyampaikan. “Kata nguwongke berasal dari Bahasa Jawa yang berarti memanusiakan manusia. Filosofi mendalam tentang bagaimana menghormati, menghargai, dan memperlakukan manusia sebagaimana mestinya,” demikian penggagas pameran ini menambahkan.

Partisipan pameran sebagian besar berasal dari Yogyakarta, terlibat pula beberapa nama dari luar kota pada deretan penampil yang bakal menyumbangkan karyanya. Tercatan nama-nama M. Dwi Marianto, Yusman, Otok Bima Sidarta, Hajar Pamadhi, Liek Suyanto, Astuti Kusumo, Totok Buchori, Adjie Koesoemo, Godod Sutejo, Dewobroto, Operasi Rachman, Tarman, Thitut, Fatkur Rochman, Dakota, Tri Suharyanto, Josep Wiyono, Iswanto, Tini, Eko Sunarto, Mulyono, dan Kibar Hardiono.

Dosen seni rupa ISI Yogyakarta, Dwi Marianto menyampaikan bahwa banyak hal dari kehidupan keseharian yang faktanya bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Praktek budaya dalam kehidupan sehari-hari yang belum “nguwongke” terjadi begitu saja dimana-mana, semisal di jalan raya dimana ketidakpedulian terhadap keselamatan diri orang lain, dan juga bagi dirinya semakin menjadi-jadi.

Melalui praktek berkesenian, The Art of Nguwongke ingin menjadi rujukan pergulatan kemanusiaan yang bersifat autopoesis dan berdasarkan gerakan ber-adurasa untuk menemukan harkat kemanusiaan hingga mampu direpresentasikan dalam bentuk-bentuk karya. Sebuah harapan yang ingin dikontribusikan oleh para perupa pada proses peristiwa sosial dan alam semesta saat ini. ***