Penghijauan Harus Dipercepat

0
799

RELOKASI BUKAN SOLUSI HARGA MATI

KR – 19 Agustus 2011

SLEMAN (KR) – Penghijauan di kawasan lereng Gunung Merapi harus dipercepat. Selain untuk menumbuhkan kembali sumber mata air yang rusak, penghijauan juga bisa dimanfaatkan sebagai kawasan perindang dan sumber makanan bagi ternak. Karena jika dibiarkan gersang terlalu lama, dikhawatirkan tanah akan mengeras sehingga sulit untuk ditanami kembali.

Menurut Kepala Dusun Srunen, Sukatmin saat ini kehidupan warga di wilayahnya mulai menggeliat. Bahkan warga mulai bangkit dari keterpurukan sektor perekonomian akibat erupsi Gunung Merapi. Andalan warga untuk perekonomian adalah ternak sapi. “Ternak sapi warga mulai bergairah lagi,” terangnya, Kamis (18/8).

Meski belum pulih benar dan beberapa titik belum ada rumput, namun warga memberanikan diri untuk berusaha. “Kami tidak mungkin bergantung kepada pemerintah terus, karenanya lebih baik mandiri,” ucapnya.

Untuk sektor pendidikan, kata Sukatmin, juga mulai berjalan normal. Pembangunan SD Srunen pun sudah selesai dan siap untuk ditempati. Dengan demikian proses belajar mengajar siswa dapat terlaksana.

Menyinggung status hutan rakyat yang ditetapkan oleh pemerintah untuk lereng Gunung Merapi yang dilarang dihuni, sebagian besar warga tidak akan mempersoalkan.

Sukatmin menegaskan yang dibutuhkan saat ini adalah penghijauan secepatnya. “Karena itu, perdebatan mengenai status hutan lebih baik dihentikan dan penghijauan mulai dilakukan lagi,” pintanya. Karena pada musim kemarau, tanaman penghijauan banyak yang mati.

Soal relokasi, Sukatmin menegaskan, warga tiga dusun di Desa Glagaharjo yakni Srunen, Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul tetap konsisten untuk menolak. Kehidupan warga saat ini mulai berbenah dan merintis perekonomian yang lebih baik. Relokasi bukanlah solusi harga mati karena yang lebih penting adalah kesiapsiagaan warga untuk melakukan mitigasi bencana.  (*-7)-f