Kasus Udin Mirip Rekayasa Antasari

0
839

Sama-Sama Berlatar Belakang WIL, Sudah 15 Tahun Tak Terungkap

RADARJOGJA – 16 Agustus 2011

JOGJA  – Kasus tewasnya wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin Belum bisa dilupakan oleh publik Jogjakarta. Pasalnya sudah 15 tahun diselidiki, hingga hari ini belum juga terungkap.

Mengambil momen 15 tahun pascatewasnya Udin hari ini (16/8), Polda DIJ didesak menjadikan pengungkapan perkara terbunuhnya Udin tersebut sebagai prioritas. Kasus Udin sudah lama menjadi pekerjaan rumah (PR)  Polda DIJ yang tak kunjung tuntas. Bahkan setiap kali pergantian Kapolda selalu berjanji akan mengungkap kasus tersebut. Sayangnya hingga pergantian Kapolda ke 14 yang sekarang  dijabat Brigjen Pol Tjuk Basuki, pengungkapan kasus tersebut tak pernah ada kemajuan.
“Setiap ganti Kapolda hanya banyak omong. Nggak pernah serius. Kalau nggak bisa mengungkap pembunuh Udin, sama artinya pejabat yang menjadi Kapolda DIJ gagal mengemban tanggung jawab,” tuding Direktur Lembaga Pembela Hukum (LPH) Jogja Triyandi Mulkan saat berbicara dalam Diskusi Lima Kali Ganti Presiden, 14 Kali Ganti Kapolda DIJ, Kapan Kasus Udin Terungkap di kantor Jogja Police Watch (JPW) Jalan Jenggotan No 5 A Jogja kemarin (15/8).
Diskusi tersebut diadakan JPW, Tim Pencari Fakta Kasus Udin, LPH dan Pusat Bantuan Hukum Jogjakarta (PBHJ)  dalam rangka memperingati 15 tahun terbunuhnya Udin.  Untuk diketahui, hari ini, Selasa (16/8) tepat 15 tahun lalu wartawan Udin meninggal setelah tiga hari sebelumnya, 13 Agustus 1996 dianiaya orang tak dikenal di rumahnya Bakulan Jalan Parangtritis Bantul.
Triyandi yang pernah menjadi penasihat hukum Dwi Sumaji alias Iwik warga Panasan Triharjo Sleman disangka polisi sebagai pembunuh Udin. Polisi meyakini latar belakang terbunuhnya Udin karena kasus wanita idaman lain (WIL). Polisi menuduh Iwik dendam karena Udin berselingkuh dengan istrinya. Namun dalam perkembangannya, tuduhan polisi itu tak terbukti. Dalam sidang di Pengadilan, jaksa menuntut hukuman bebas. Demikian pula ketika hakim menjatuhkan putusan, Iwik divonis bebas. “Sejak awal penyelidikan oleh polisi penuh rekayasa. Terbukti Iwik diputus bebas,” cerita Triyandi.
Rekayasa itu antara lain terlihat dari barang bukti yang diajukan ke persidangan, seperti besi yang dijadikan pemukul, sabuk dan kaos. Bahkan foto Sunarti, istri Iwik dicomot polisi dari kantor KUA yang diambil dari buku nikah Iwik. Foto itu lalu dimasukkan ke dompet Udin.
Penyelidikan polisi yang meyakini terbunuhnya Udin dengan soal WIL mengingatkan pada pengusutan kasus tewasnya Nasrudin Zulkarnaen yang menyeret mantan Ketua KPK Antasari Azhar sebagai tersangka.  Rani Juliani, disebut-sebut sebagai wanita lain yang turut menjadi pemicu kasus tersebut muncul. “Kasus Antasari itu juga  penuh rekayasa,” ucap Triyandi.
Anggota Tim Pencari Fakta PWI Jogja Asril Sutan Marajo mengungkapkan pola penyelidikan polisi dalam mengungkap kasus Udin dan Nasrudin  yang menyeret Iwik dan Antasari sebagai tersangka ada sejumlah kemiripan. Selain dikembangkan karena latar belakang WIL, barang bukti dalam kasus itu sama-sama bermasalah.  “Kalau kasus Antasari yang macet adalah pistol pelaku, sedangkan dalam kasus Udin, vespa Iwik yang dijadikan barang bukti juga macet nggak bisa jalan,” kata Asril yang mengundang geer.
Asril yang sekarang menjabat ketua JPW itu menambahkan dari penelusuran tim penyelidik kasus Udin  juga terlibat dalam pengungkapan kasus Nasrudin. Di antaranya ada nama Hadi Atmoko, mantan Wakabareskrim yang sekarang menjadi Kapolda Jatim. Semasa berpangkat perwira menengah Hadi Atmoko juga menjadi tim supervisi penyelidikan kasus Udin yang diterjunkan Mabes Polri ke Jogja.
“Jangan-jangan Edi Wuryanto yang dulu menangani kasus Udin juga masuk tim kasus Antasari. Dia sekarang kan bertugas di Mabes Polri,” ungkap Asril.
Asril mendesak karena kasus WIL tak terbukti, polisi harus melakukan penyelidikan ulang kasus Udin. Latar belakang yang harus didalami menyangkut
berita-berita yang pernah ditulis wartawan Bernas tersebut.
Sebagai anggota TPF PWI, Asril meyakini terbunuhnya Udin dilatarbelakangi berita-berita kritis karya almarhum. Berita-berita itu antara lain menyangkut pemotongan dana Inpres Desa Tertinggal (IDT), pemilihan bupati Bantul periode 1996-2001 dan adanya surat kesanggupan Sri Roso Sudarmo menyumbang Rp 1 miliar ke Yayasan Dharmais milik mantan Presiden Soeharto sebelum terpilih sebagai bupati periode kedua. “Berita-berita itulah yang harus didalami polisi,” desaknya.
Ia juga merasa heran dengan statemen Kapolda ke 13 Brigjen Pol Ondang Sutarsa saat menerima silaturahim pengurus JPW pada 1 Agustus lalu. Ondang mengaku bingung ketika harus memulai dari mana mengungkap kasus Udin. Ia pun mempersilakan masalah itu ditanyakan ke penggantinya. “Pernyataan Kapolda semacam itu tak patut,” sesalnya.
Direktur PBHJ Ibnu Darpito SH akan kembali mengingatkan Kapolri agar memerintahkan Polda DIJ menyeriusi pengungkapan kasus Udin tersebut. Sukses Polda Bali membongkar pelaku pembunuhan wartawan Radar Bali beberapa waktu lalu harus menjadi pemicu semangat polisi. “Faktornya bukan kemampuan tapi ketidakmauan polisi,” bebernya. (kus)