Ikan Berformalin dari Beringharjo

0
777

SAMIGALUH – Operasi Terpadu Pengawasan Barang Jasa dan Pangan Asal Hewan (PAH) yang digelar oleh petugas gabungan berhasil menyita 1 Kg ikan asin pedo yang terbukti berformalin serta puluhan sachet obat-obatan kedaluwarsa dan tidak layak edar saat menggelar operasi di Pasar Tradisional Plono, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo Jumat (19/8).

Kepala Seksi Penyidikan dan Penindakan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kulonprogo, Qomarul Hadi mengungkapkan, berdasarkan hasil operasi yang dilakukan disejumlah pasar di wilayah Kulonprogo. Sebagian besar temuan ikan asin berformalin berasal dari jenis ikan asin pedo dan ikan teri kacangan yang diambil dari Pasar Beringharjo, Jogjakarta.

Dirinya mengatakan, sejumlah hasil sitaan tersebut rencananya akan dimusnahkan setelah Lebaran. Operasi tersebut merupakan gabungan dari petugas Sat Pol PP, Dinas Kesehatan (Dinkes) Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM (Disperindag ESDM), Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Kepenak) Kulonprogo.

“Untuk mengantisipasi penyebaran ikan asin berformalin dari Pasar Beringharjo, kita akan lapor kepada Dinas Pertanian Provinsi DIJ untuk segera menindaklanjuti para pedagang yang menjual ikan berformalin,” ujarnya.

Qomarul mengatakan, dalam operasi yang dilakukan di Pasar Plono tersebut, selain menemukan 1 Kg ikan berformalin petugas juga berhasil menyita 90 sachet obat-obatan kedaluwarsa dan tidak layak edar di pasaran. Ratusan butir obat tersebut ditemukan disebuah los Pasar Plono milik Turus warga Dusun Ngunthuk Untuk, Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo .Sejumlah temuan obat tersebut terdiri dari obat segitigas emas (36 bks), super kecethet (9 bks), obat asam urat cap Bunga Matahari (20 bks), obat gatal (18 bks) dan obat asam urat (7 bks).

“Sejumlah temuan ini kami sita berdasarkan Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan denda maksimal Rp 2 milayar atau hukuman kurungan maksimal 2 tahun. Khusus obat-obatan kemudian diserahkan pada Disperindag dan ESDM Kulonprogo untuk diperiksa,” ujarnya.

Dirinya mengatakan, dikawasan Pasar Plono tersebut sebelumnya terdapat seorang pedagang daging yang menjadi target operasi (TO) karena selama tiga kali dilakukan sidak didapati menjual daging sapi yang bercampur dengan daging babi. Akan tetapi dalam operasi tersebut petugas tidak menemukan pedagang yang bersangkutan.

“Sebelumnya di Pasar Plono ini ada TO pedagang daging sapi yang mencampur dengan daging babi, namun setelah tiga kali disidak sekarang tidak berjualan,” ujarnya.

Qomarul menambahkan, sejumlah pedagang yang barangnya disita oleh petugas bukan merupakan TO lama. Para pedagang justru banyak yangtidak tahu jika barang dagangan yang diambil dariPasar Beringharjo banyak yang mengandung formalin.

“Sekarang ini penjual juga menjadi korban karena mereka juga tidak tahu jika produk yang dijual mengandung formalin, mereka tidak bisa membedakan. Mereka hanya tahu kulakan, setelah diperiksa ternyata positif. Bahkan ada pedagang yang memeriksakan dagangannya, ternyata positif berformalin,” paparnya.

Untuk mengantisipasi penyebaran produk yang merugikan konsumen tersebut, petugas akan memberikan peringatan dan pembinaan pada para pedagang yang terbukti menjual produk berformalin maupun obat-obatan kedaluwarsa dan tidak layak edar.

“Operasi ini terus kita lakukan secara intensif , kemungkinan sampai hingga H-7. Pedagang yang bersangkutan akan kita beri peringatan dan pembinaan,” katanya.

Terpisah Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo, Sabar Widodo mengatatakan, untuk mengatasi maraknya peredaran ikan asin berformalin di wilayah Kulonprogo dirinya menghimbau agar para pedagang lebih selektif dalam mendapat barang dagangan dari tengkulak. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak ada pihak yang dirugikan, dirinya juga mempersilakan para pedagang untuk mengujikan produk ikan asin dan memastikan bebas dari formalin.

“Kami menyarankan para pedagang untuk lebih selektif dalam mendapatkan barang dari tengkulak, selain itu produk ikan asin juga kami persilakan untuk diujikan untuk memastikan bebas formalin,” ujarnya.

Sabar mengatakan, untuk menekan peredaran ikan berformalin di wilayah Kulonprogo tersebut dinas akan berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DIJ untuk ditindaklanjuti. Dirinya juga berharap, dengan adanhya koordinasi tersebut dinas Provinsi dapat memberikan pembinaan kepada para pedagang atau tengkulak karena peredaran produk yang ditemukan di Kulonprogo berasal daeri daerah lain.

“Saat ini langkah yang dilakukan bersama Sat Pol PP adalah menggelar operasi dan penyitaan sekaligus memberikan pembinaan pada pedagang. Kami juga bergharap agar dinas provinsi memberikan pembinaan kepada tengkulak di luar wilayah Kulonprogo,” katanya. (asa)