Deklarasi Ring of Performance di Yogyakarta

0
869

Sebagai seorang fotografer pertunjukan, undangan untuk meliput Deklarasi Ring of Performance tentu menarik. Dalam perjalanan menuju lokasi acara di Melting Pot Eatery & Coffee di Jl Suryodiningratan 37 B Yogyakarta Minggu malam (14/02/2016), saya disesaki oleh beberapa praduga. Satu-dua tentu tentang soal teknis tata panggung, lainnya tentang nama-nama penampil yang tak begitu saya kenal selama ini.

Sampai di tempat pertunjukan, sejujurnya saya sedikit kebingungan. Secepatnya berusaha eksplorasi lokasi dan mengambil posisi sekalian mempersiapkan peralatan. Di halaman belakang venue tak terlihat ada panggung apalagi tata cahaya yang biasanya menyertai.

Ketika seorang Yustoni Volunteero perupa yang sekaligus bertindak sebagai pengantar acara mempersilahkan pertunjukan dimulai, saya sedikit kesulitan mengambil posisi memotret. Kesulitan yang lebih dikarenakan keheranan. Terlihat beberapa penonton maju mengacungkan telepon seluler, entah merekam atau sekedar memotret. Fotografer penyelenggara juga merangseng masuk, bahkan lampu flash beberapa kali mengilati penampil. Sungguh sebuah kaidah pertunjukan yang tidak biasanya.

Para penampil di pertunjukan ini tentu sangat berbeda dengan rekan-rekan lain yang saya kenal menekuni seni pertunjukan, baik seni theater, musik, terlebih tari. Pun demikian, ada yang unik dan menjadi menarik direnungkan dari ‘pentas’ kali ini.

Saya melihat tak ada batas antara panggung dan penonton. Ketiadaan batas ini bukan hanya soal kewantahan visual atau konsep tata artistik, tapi sepertinya lebih dalam, bahkan tumbuh dari paradigma berkesenian itu sendiri.

Para penampil seperti tak lagi disibukkan dengan pernak-pernik yang menyertai sofistikasi seni pertunjukan. Tubuh memang masih menjadi medium, sebagaimana disebutkan oleh Iwan Wijono, “tradisi performatif mengakar kuat dalam pergulatan Bangsa Indonesia sejak dahulu kala.” Selanjutnya pria yang menjadi salah satu penggagas Deklarasi Ring of Performance ini menyampaikan bahwa “baik tubuh tradisional maupun tubuh moderen, selalu pula berarti tubuh kontemporer yang kemudian bertindak sekaligus sebagai kreator, media, dan ruang tampil.”

Gejala ketubuhan sebagai media sekaligus ruang tampil inilah yang musti dipahami sebagai proses berkesenian komunitas yang unik namun otentik ini. Terlihat sekali bahwa inspirasi karya-karya digali dari pelbagai keprihatinan kekinian yang ada dalam masyarakat saat ini. Sebut saja, aneka persoalan ekologis, ketimpangan sosial, absurditas persoalan kekerasan, serta thema-thema kontemporer lainnya.

Lihatlah kala seorang penampil mengajak serta penonton untuk saling memeluk, kemudian membuka sebuah payung ditengah-tengah kerumunan, bagai ungkapan keterbatasan perlindungan yang tak mampu diperoleh oleh warga bangsa. Juga ketika penampil dari Surabaya, mempergunakan tubuhnya sebagai media proses membatik, sebuah pertunjukan yang mempertegun penonton pada suasana kesakitan yang seketika menampilkan kegetiran para pelaku industri kecil batik tradisional kita di era industrialisasi ini. Penampil Ferial Afif dari Kota Yogyakarta menyuguhkan keprihatinan pada absurditas kekerasan saat ini, betapa kekerasan berdarah bagai telor-telor pecah kemerahan yang terjadi di bawah meja terinjak oleh alas-alas kaki kekuasaan yang anonim namun tak terelakkan.

Sambil meninggalkan tempat pertunjukkan saya masih tetap memikirkan semua yang tampil digelisahi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang seni pertunjukan. Sepertinya para perupa yang menyatukan diri dalam jejaring Ring of Performance ini adalah mereka yang sudah gerah merasakan segenap situasi zaman ini. Mereka bergerak keluar dari studio, memperluas kanvas. Spasi instalasi mereka tak lagi terbatas pada gedung dan tembok ruang lagi, melainkan menjangkau seluas gagasan bisa dijajagi.

Semesta masyarakat bagai substrat, yakni bahan materi sekaligus tempat mereka menampilkan kesenian. Seni sebagai sebuah proses peristiwa, seni sebagai sebuah rangkaian berkreasi dan men-JADI. Sebuah langkah eksistensialis yang tak pernah henti.